JAKARTA — Keberanian tidak selalu berwujud benturan fisik atau suara tembakan di lapangan. Di pelataran Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, keberanian justru hadir dalam wujud ketenangan jiwa dan kemampuan menekan ego demi mencegah pertumpahan darah.
Pendekatan persuasif tersebut dibuktikan oleh Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan dan Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo saat berhadapan dengan massa dalam aksi pengibaran Bendera Bulan Bintang pada kegiatan Zikir dan Aksi Bela Nanggroe.
Alih-alih mengedepankan kekuatan represif, pucuk pimpinan kepolisian di Aceh itu memilih melangkah maju tanpa sekat, berdiri berhadapan langsung dengan warga untuk meredam situasi yang sempat memanas.
Proses negosiasi berjalan alot namun dingin. Melalui komunikasi yang mengedepankan kearifan lokal serta dialog yang humanis, proses penurunan bendera akhirnya dapat berujung damai tanpa ada bentrokan fisik.
Langkah berani mengambil risiko demi menjaga kondusivitas wilayah inilah yang melatarbelakangi Markas Besar Polri mengganjar para perwira dan personel lapangan tersebut dengan penghargaan tertinggi.
Atas tindakan terukurnya, Pin Emas Kapolri disematkan kepada Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan, Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo, serta Kanit 1 Subdit 4 Ditintelkam Polda Aceh Kompol I Ketut Supriyatna.
Tak hanya itu, ganjaran Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) juga diberikan kepada Kasat Samapta Polresta Banda Aceh Kompol Saiful Hadi, Ba Polsek Lueng Bata Aipda Azhari, dan Ba Samapta Polresta Banda Aceh Bripda Azkar.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir menegaskan tindakan yang ditunjukkan para personel di Tanah Rencong merupakan cerminan pengabdian tulus yang mengutamakan keselamatan rakyat.
“Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi pimpinan kepada personel yang telah menunjukkan dedikasi, keberanian, dan pengabdian dalam melaksanakan tugas. Apa yang dilakukan para personel ini merupakan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga keamanan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Isir dalam keterangannya di Jakarta.
Langkah humanis di lapangan ini diharapkan menjadi standar baku pengayoman masyarakat bagi seluruh insan Bhayangkara di mana pun bertugas. Keberhasilan meredam potensi konflik melalui dialog terbukti efektif merawat ketentraman tanpa mencederai hubungan emosional antara kepolisian dan masyarakat lokal.
“Pengabdian dan keberanian personel di lapangan harus terus menjadi teladan. Polri akan terus memberikan apresiasi kepada anggota yang menunjukkan dedikasi dan pengorbanan dalam menjalankan tugas untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara,” tegas Isir. (*)
