JAKARTA – Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya (GRIB) bersih tak terkait kematian warga di Pejompongan bernama Bambang Setiawan saat kericuhan pascademo di Jalan Pejompongan Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis malam, 27 Agustus 2026.
Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules mengapresiasi penyidikan profesional Polda Metro Jaya.
“Saya apresiasi sebesar-besarnya pada Polda Metro Jaya yang telah mencari fakta yang sebenar-benarnya,” kata Hercules dalam wawancara beberapa waktu lalu.
Sejumlah pihak mengaitkan GRIB dan Hercules dalam kasus tersebut. Namun dari penyidikan Ditreskrimum Polda Metro Jaya, seperti diumumkan pada 12 September 2026, pelakunya adalah 3 orang pekerja harian lepas yang tak terkait kelompok massa. Ketiganya ditangkap di Bogor.
Hercules menyindir sejumlah pihak yang kerap mengkambinghitamkan GRIB. Padahal GRIB saat itu turun untuk mencegah kerusuhan meluas pascademo di Jakarta Barat.
“Kita hanya mencegah supaya tak terjadi bakar-bakaran. Tidak ada kita melakukan pengeroyokan,” jelas Hercules.
Menurut Hercules, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan kota, Jakarta.
Ia melihat situasi mengkhawatirkan karena sudah muncul bakar-bakaran. “Kalau Jakarta rusuh, kita semua rugi,” kata Hercules.
Pria bernama asli Rosario de Marshall menyatakan situasi kericuhan pada 27 Agustus malam tak terkait dengan demo. “Kalau demo pada siang hari, kalau malam dilarang. Aturannya begitu,” ceplos Hercules.
Ia meminta semua pihak menghormati proses hukum mengingat Indonesia adalah negara hukum.
“Kalau tidak percaya pada hukum, ya jadi orang liar saja sana di hutan,” sembur Hercules.
Hercules juga mengkritik 2 orang yang mengaku tokoh agama tetapi provokatif dengan mengaitkan GRIB.
“Namanya tokoh agama harus bikin sejuk, bukan justru jadi provokator,” sindir Hercules.