MEDAN – Eskalasi aktivitas vulkanik Gunung Sinabung yang memicu penetapan status Level III (Siaga) direspons cepat oleh jajaran kepolisian melalui penguatan rantai pasokan logistik darurat.
Satuan Brimob Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Sumut) mengerahkan armada dapur lapangan menuju posko pengungsian di SDN 040408 Sukandebi, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, guna memastikan ketersediaan pangan bagi ratusan warga yang terpaksa mengungsi.
Langkah mitigasi ini setelah Pemerintah Kabupaten Karo menginstruksikan evakuasi cepat terhadap warga dua desa yang terancam, yaitu Desa Kuta Tengah dan Desa Payung.
Peningkatan status bahaya yang direkomendasikan oleh Badan Geologi memaksa otoritas daerah bertindak sigap demi meminimalisasi risiko korban jiwa di kawasan zona merah.
Sebanyak lima unit kendaraan operasional khusus yang dilengkapi fasilitas memasak berskala besar diturunkan di bawah pimpinan Kasubsi Bekum Logistik Satuan Brimob Polda Sumut Iptu Mulyadi.
Penyiapan armada penunjang pangan ini difokuskan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi dari Desa Kuta Tengah yang diarahkan ke kawasan Sukatepu, serta warga Desa Payung yang ditampung di Losd Desa Batukarang.
Komandan Satuan Brimob Polda Sumut Kombes Pol. M. Rendra Salipu menegaskan penyiapan sarana dapur darurat ini merupakan langkah antisipatif agar pelayanan bantuan pangan dapat disalurkan secara instan begitu arus pengungsian melonjak.
Pihaknya memastikan seluruh armada kendaraan operasional telah berada dalam kondisi siap tempur untuk menopang kebutuhan gizi warga terdampak selama masa tanggap darurat.
“Seluruh sarana disiapkan agar dapat segera digunakan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan dalam mendukung masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Sinabung,” ujar Rendra.
Kehadiran unit dapur logistik ini diharapkan mampu menutup celah keterlambatan pasokan makanan di titik-titik penampungan sementara. Koordinasi antara aparat kepolisian dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Karo terus dilakukan demi menjamin keselamatan, kesehatan, serta ketersediaan logistik warga di area pengungsian.
“Kehadiran dapur lapangan itu menjadi bagian dari kesiapan kami untuk bergerak cepat, memastikan dukungan dapat diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan,” tegas Rendra. (*)