KALTARA – Kepulan asap tipis masih membubung dari celah-celah tanah gambut yang menghitam di kawasan Selimau, Tanjung Selor, ketika sesosok perwira menengah melangkah melintasi sisa-sisa kebakaran. Di tengah hawa panas yang menyengat kulit, Komandan Satuan Brimob Polda Kaltara Kombes Pol. Sutrisno Hady Santoso memilih memimpin proses pendinginan lahan ketimbang sekadar menerima laporan di balik meja.
Kehadiran Kombes Pol. Sutrisno Hady Santoso di garis depan bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pertaruhan keselamatan warga Kabupaten Bulungan dari ancaman bencana asap yang kerap mengintai tanpa kompromi.
Bagi Sutrisno, pertarungan melawan kebakaran hutan dan lahan memiliki medan laga yang menipu. Sering kali permukaan tanah terlihat tenang dan padam. Padahal, di kedalaman gambut, bara api tetap menyala diam-diam dan siap meletup kembali begitu diterpa angin kencang.
Risikro tersembunyi inilah yang mendorongnya memboyong 10 personel Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Kaltara pimpinan AKP Edison untuk bahu-membahu bersama 10 prajurit TNI AL serta 10 petugas BPBD Kabupaten Bulungan sejak Sabtu akhir pekan lalu.
Sinergi lintas instansi ini menjadi benteng pertahanan utama dalam menyisir setiap jengkal lahan terdampak. Dengan selang air bertekanan tinggi dan peralatan seadanya di medan yang sulit, para petugas menyiramkan air ke titik-titik rawan untuk mematikan potensi kobaran baru. Tatapan waspada para personel menyusuri celah gambut, memastikan tidak ada lagi sisa asap yang menyelinap di antara vegetasi yang hangus.
“Penanganan karhutla tidak berhenti setelah api berhasil dipadamkan, tetapi perlu dilanjutkan dengan monitoring dan pendinginan secara menyeluruh untuk memastikan kondisi benar-benar aman,” tegas Sutrisno.
Melalui pendekatan humanis dan sigap ini, kepolisian menunjukkan mitigasi bencana memerlukan napas panjang dan komitmen yang tak terputus. Mengamankan Selimau dari ancaman Karhutla berarti menyelamatkan paru-paru Tanjung Selor serta menjaga masa depan udara bersih bagi masyarakat sekitarnya.
“Personel harus tetap waspada terhadap kemungkinan munculnya kembali titik api dan terus bersinergi dengan TNI serta instansi terkait. Keselamatan masyarakat dan pencegahan meluasnya Karhutla menjadi prioritas utama,” katanya. (*)