PALEMBANG – Di atas alur air sempit yang diapit tanaman teberau dan ilalang setinggi dada, raungan mesin perahu kayu menjadi satu-satunya pertanda kehidupan.
Asap kelabu tebal menggantung pekat, menyulap siang menjadi remang-remang yang menyesakkan dada. Serpihan abu panas beterbangan bak salju hitam di udara, menempel pada seragam cokelat yang basah oleh keringat dan air rawa.
Bagi personel Ditsamapta Polda Sumatera Selatan (Sumsel),kanal-kanal terpencil ini adalah jalan tunggal menuju garda depan pertarungan melawan kobaran api yang melalap lahan basah.
Menjangkau titik api di kedalaman hutan bukan perkara mudah. Kendaraan taktis darat tak mampu menerobos medan rawa berlumpur yang pekat.
Dengan perahu bermotor sederhana, para personel membelah rimbunnya vegetasi air demi mendekati lidah-lidah api yang menari-nari liar.
Ketika perahu terkandas oleh dangkalnya kanal dan rapatnya semak, para petugas tanpa ragu melompat turun, menyeburkan diri ke dalam air rawa. Sambil memikul selang bertekanan tinggi, mereka merayap di antara batang-batang liar yang mulai hangus.
Hawa panas menyengat kulit saat semprotan air dihantamkan ke arah kobaran yang meluas. Di balik riuk asap dan desis uap air, keteguhan menyatu dalam kerja sama tim yang solid.
“Asap tebal membuat jarak pandang sangat terbatas dan mata perih, sementara lapisan bawah gambut masih terus menyimpan bara. Tapi kami tidak boleh mundur karena setiap meter api yang padam adalah napas bagi masyarakat,” ujar salah satu personel Ditsamapta Polda Sumsel di tengah kepungan asap.
Aksi menembus hutan yang terbakar ini memperlihatkan sisi humanis dari tugas kepolisian. Meski rasa lelah menguras fisik dan potensi bahaya mengintai di setiap langkah, semangat pantang menyerah tetap terjaga.
Komitmen bersama dalam penanganan situasi darurat bencana ini menjadi bukti bahwa sulitnya medan bukan penghalang untuk melindungi ekosistem dan menjaga keselamatan warga dari ancaman bencana kabut asap. (*)