JAKRTA – Di tengah dinamisnya dinamika keamanan di wilayah Jakarta Selatan, sebuah langkah tak biasa diambil oleh pejabat baru pemegang komando. Bukan parade kemegahan atau pengarahan kaku yang mengawali kepemimpinan Kompol Theodorus Echeal Setiyawan di Mapolsek Pasar Minggu, melainkan sebuah tradisi penundukan diri melalui ikhtiar batin dan refleksi spiritual bersama seluruh jajarannya.
Cara itu menegaskan kepemimpinan modern tidak hanya bersandar pada instruksi hirarkis, melainkan pada fondasi rasa syukur dan kesadaran spiritual.
Berada di tengah-tengah para Perwira, Kanit, hingga jajaran Bhabinkamtibmas yang berhadapan langsung dengan warga, perwira menengah tersebut menggalang kekuatan dari dalam sebelum melangkah menghadapi tantangan kewilayahan.
Bagi kepolisian di tingkat sektor, aspek mental dan emosional jajaran menjadi fondasi penting dalam memberikan pengayoman yang humanistis.
Kerendahan hati untuk mengawali tugas dengan memohon perlindungan Tuhan menjadi modal utama dalam membangun iklim kerja yang solid, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Kami mohon do’a dan dukungan dari seluruh anggota, semoga dibawah kepemimpinan beliau, Polsek Pasar Minggu semakin solid, semakin di cintai masyarakat, dan wilayah hukum Polsek Pasar Minggu semakin aman, damai, dan kondusif,” kata Kasi Humas Polsek Pasar Minggu Aiptu Nanik Sulastri.
Strategi kebangsaan dan keamanan masyarakat pada tingkat paling dasar memang menuntut keterlibatan emosional yang kuat antar-anggota. Kepemimpinan yang humanis diawali dari kesadaran bahwa rasa aman warga lahir dari jajaran kepolisian yang solid, sehat secara mental, serta mengedepankan pendekatan spiritual dalam setiap tindakan lapangan.
Melalui arah kepemimpinan baru ini, komitmen pelayanan publik dituntut tidak sekadar hadir sebagai formalitas penegakan hukum, melainkan hadir sebagai pelindung yang membumi dan menyatu dengan denyut kehidupan warga Pasar Minggu. (*)