Pengayom di Kaki Sinabung, Polri Kawal Keselamatan dan Jiwa Pengungsi

Ikuti saluran 110News.com di WhatsApp
Pengayom di Kaki Sinabung, Polri Kawal Keselamatan dan Jiwa Pengungsi
Polri mendampingi warga pengungsian Gunung Sinabung melalui pemenuhan kebutuhan logistik hingga layanan trauma healing bagi anak-anak.(Foto: Istimewa)

KARO – Di tengah ancaman erupsi Gunung Sinabung yang masih menetap di Level III (Siaga), senyum tipis anak-anak di Jambur Desa Suka Tepu menjadi bukti bahwa harapan belum sepenuhnya padam. Sebanyak 374 warga Desa Kuta Tengah terpaksa berteduh di ruang pengungsian. Sementara ratusan personel gabungan Polri, TNI, dan Pemkab Karo bersiaga menjaga keselamatan serta ketenangan jiwa mereka dari riak bahaya yang tak menentu.

Kehadiran korps baju cokelat di lokasi bencana tidak lagi sekadar urusan evakuasi fisik atau pengamanan zona bahaya. Menghadapi potensi trauma berkepanjangan pada kelompok rentan, Polres Karo menerjunkan personel Satbinmas untuk memberikan pendampingan psikologis khusus kepada anak-anak terdampak agar rasa takut tidak menguasai masa kecil mereka.

Langkah ini melengkapi penyaluran bantuan logistik, fasilitas dapur lapangan, hingga pengerahan armada Armoured Water Cannon (AWC) Brimob untuk menyiram tumpukan abu vulkanik di jalanan demi menjaga kualitas udara warga sekitar.

“Pelayanan kepada masyarakat tidak hanya menyangkut kebutuhan fisik, tetapi juga kondisi psikologis. Anak-anak menjadi perhatian kami agar tetap merasa aman dan mendapatkan pendampingan selama berada di pengungsian,” ujar Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko.

Meskipun intensitas asap kawah terpantau menurun, kata Trunoyudo, tingkat kewaspadaan petugas tidak boleh mengendur sedikit pun.

Sebanyak 202 personel gabungan disiagakan secara intensif untuk memantau pergerakan vulkanik sekaligus memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi tanpa kendala. Sinergi lintas lembaga antara Polri, TNI, BPBD, dan PVMBG menjadi benteng utama agar situasi darurat ini berjalan terukur tanpa memakan korban jiwa, sembari secara berkala mengimbau masyarakat agar senantiasa menggunakan masker dan tidak menerobos zona berbahaya.

“Personel tetap berada di lapangan dan siap bergerak apabila terjadi perubahan situasi. Prioritas kami adalah memastikan masyarakat aman, kebutuhan pengungsi terpenuhi, dan setiap potensi risiko dapat diantisipasi sedini mungkin,” tegas Trunoyudo.

Ketangguhan warga di tapak pengungsian kini berpadu dengan kesiapsiagaan para petugas, merajut kembali rasa aman di bawah bayang-bayang gunung berapi yang belum sepenuhnya tertidur. (*)